Jas Merah di Bayang Cahaya Kekuningan

0
23
Foto: Ilustrasi Jas Merah

Catatan kecil menjelang Pemilihan Kepala Daerah Kabupaten Minahasa Utara tahun 2020… (Pemred)

Paparan.ID Minut – Masuk-nya pasangan Sompie Singal-Joppi Lengkong (SS-JL) dalam “pertarungan” perebutan kursi top eksekutif di Pemerintahan Kabupaten Minahasa Utara membuat tensi politik di kabupaten ini mengalami peningkatan luar biasa dan seakan memiliki “Keangkeran” tersendiri bagi beberapa tokoh politik yang menjadi lawan tarung dua birokrat senior ini.

Baca juga: Persembahan Terbaik Partai Golkar untuk Minahasa Utara

Terhitung sejak dua bulan terakhir konstelasi perpolitikan di kabupaten berjuluk Seribu Waruga ini menjadi sulit untuk diikuti dengan kasatmata. Pergerakan para dedengkot politik mengisyaratkan seperti adanya kegelisahan dan kepanikan bagi dua figur yang pernah mengenakan jas merah ini.

Sompie-Singal dan Joppi Lengkong (SS-JL) bukan hanya sebagai bagian dari “Jas Merah” (Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah) tetapi benar-benar pernah mengenakan jas merah. Meskipun dalam kurung waktu yang singkat, namun sejarah perpolitikan di Minahasa Utara pernah menjadi saksi jika keduanya adalah pelaku “Jas Merah” yang pernah benar-benar mengenakan jas merah. Tetapi seiring waktu “Jas Merah” pun tinggal menjadi sepenggal kisah untuk keduanya.

“Terbuang” dari “Jas Merah”, dua figur ini berkelana mengikuti kekuningan cahaya mentari yang memberikan seberkas sinar harapan dan disambut dengan tak bertepuk sebelah tangan. Ibarat di daur ulang dua birokrat ini di poles menjadi indah dan berhaga sehingga nilai jual keduanya mampu memporakporandakan kemewahan perpolitikan yang disertai retaknya konstelasi elit politik sampai merambah ke level nasional.

Ramuan politik dari dusun kecil di kabupaten yang berada tepat di bawah kaki Gunung Klabat ini ternyata mampu membuyarkan dan menusuk “tulang elit politik level nasional”. Alhasil wacana kotak kosong pun di gaung-kan dengan memainkan irama-irama dan ritme yang mengisyaratkan kekuatiran serta kepanikan. Walaupun kotak kosong bukanlah hal yang tabu namun hal ini ibarat “memasung hak demokrasi” dengan tidak membiarkan demokrasi berkreasi secara alami dan Luber (Langsung, Umum, Bebas dan Rahasia).

Baca juga: PDIP Wacanakan Lawan Kotak Kosong di Pilkada Minut 2020?

Wacana kotak kosong seperti jauh dari bentuk kepiawaian berpolitik namun telah terlekat aroma ketakutan dan kepanikan. Dengan kata lain “ibarat sampah” yang di daur ulang, pasangan yang  berjuluk KISS JO kini menjadi mutiara yang berkilau dan mampu menyilaukan siapa saja yang menjadi lawan tanding.

Di lain pihak, kondisi pertarungan Pemilihan Kepala Daerah Kabupaten Minahasa Utara tahun 2020 bukan terletak pada saat pencoblosan tanggal 9 desember nanti. Tetapi soal perebutan Partai Golkar untuk mencapai 20% kursi sebagai tiket di Pemilihan Kepala Daerah tahun 2020. Dan jika 20% tercapai maka bukan tidak mungkin “Jas Merah” akan tercatat sebagai lawan merah yang bercahaya kekuningan hasil daur ulang produksi pohon beringin, menjadi digdaya di bumi Minahasa Utara. Sejarah pasti akan mencatat konstelasi politik dusun mampu menggetarkan resonansi politik nasional.

(red)

Sharing is caring

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here