“Kita Orang Manado”

0
32
Foto: Logo Kota Manado

Paparan.ID Manado – Ulasan ini bukan untuk membandingkan dua kota yang cukup terkenal dalam sejarah filosofi dunia khususnya di Eropa. Siapa yang tidak mengenal Socrates, Plato dan Aristoteles dalam dunia yang mengedepankan nalar berpikir dan bisa dikatakan sebagai cikal bakal “dunia pendidikan”. Ketiga pemikir ini terlahir dan berkarya pada suatu tatanan hiruk pikuk kehidupan masyarakat yang kemudian waktu dipercaya sebagai asal usul peradaban barat dalam hal bahasa, politik, sistem pendidikan, filsafat, ilmu, dan seni. Bisa jadi ini juga yang menjadi dasar kuat sehingga dikemudian hari mendorong Renaisans di Eropa.

Era Yunani Kuno tempat dimana ketiga orang ini hidup dan paling identik adalah Kota Athena Kuno. Meskipun begitu ternyata ada kota lain yang tidak kalah hebat dan menarik perhatian karena pada akhirnya menjadi sebab utama berakhirnya masa keemasan Athena akibat ditaklukan oleh Sparta.

Foto: Kantor Walikota Manado

Merujuk nama Sparta membuat kita yang mengenal Ibu Kota Provinsi Sulawesi Utara yaitu Manado tahu persis bahwa kota ini memiliki sebuah alun-alun yang entah mengapa memiliki nama Lapangan Sparta Tikala. Tidak dapat dipungkiri bahwa Lapangan Sparta Tikala merupakan tempat kebanggaan orang Manado. Sebagai ruang terbuka publik, lapangan ini digunakan multifungsi bagi masyarakat Kota Manado. Apakah penamaan ini secara sengaja dilakukan agar semangat prajurit Sparta yang konon katanya sangat tangguh boleh mengilhami penduduk Kota Manado terlebih khusus para Abdi Negara-nya?

Foto: Lapangan Sparta Tikala

Seiring waktu bertambah tuanya kota ini, memberikan dampak yang terukur dan yang tidak terukur bagi sebuah kota modern. Kemajuan suatu kota bukan hanya diukur dari segi lengkapnya infrastruktur melainkan juga cara berpikir dan prilaku masyarakat (SDM).

Tidak lepas dari masa lalu hingga saat ini di mana Kota Manado merupakan identitas yang tidak pernah lepas dari suku dan budaya yang mendominasi secara umum di provinsi yang memiliki julukan Nyiur Melambai Provinsi Sulawesi Utara dengan Suku Mayoritasnya yaitu Minahasa. Karena memang sejarahnya Kota Manado dahulu merupakan bagian dari wilayah Minahasa. Namun secara keseluruhan baik sub etnis dengan daerah kabupaten kota lainnya yang menjadi bagian Provinsi Sulawesi Utara saat ini, sudah sejak dahulu lebih dikenal luas dalam gugusan Nusantara dengan sebutan sebagai “Orang Manado”.

Bicara mengenai Identitas Sebuah Kota, Manado adalah juaranya. Ciri khas “Orang Sulawesi Utara” sejak dahulu lebih melekat kepada Manado bukan Minahasa. Walaupun kita tahu bersama penduduk Kota Manado sangat majemuk mulai dari agama yang dianut dan latar belakang etnis penduduknya. Secara geografis penduduk yang majemuk ini juga tersebar hampir merata di semua wilayah Kota Manado. Namun bagaimanapun kajian mengenai hal tersebut sebutan “Orang Manado” tetap menjadi pengertian nyata dari yang namanya Identitas Kota.

Predikat yang melekat kepada “Orang Manado” tersebut bukan tidak mememiliki alasan, tapi yang jelas memang belum bisa dijadikan jawaban yang pasti mengapa “Orang Sulawesi Utara” diberi identitas sebagai “Orang Manado” meski contohnya penduduk tersebut adalah penduduk asli suku yang berasal dari Nusa Utara.

Ada beberapa hal yang bisa saja menjadi faktor utama sehingga Identitas “Orang Manado” menjadi begitu kentalnya. Yang pertama adalah gaya hidup penduduk yang mendiami kota ini, yang kedua keadaan geografis, bangunan perkotaannya, dan yang ketiga keadaan lingkungan. Dari ketiga hal tersebut menurut penulis faktor yang paling menonjol sehingga Identitas “Orang Manado” menjadi sangat ciri khas yaitu pada gaya hidup penduduknya yang terkenal modis dan up to date dalam banyak hal.

Dari sekian banyak faktor yang menonjol dan unik dari kehidupan “Orang Manado” bahkan ada beberapa artikel yang menulis tentang sisi positif maupun negatif kehidupan “Orang Manado” namun keadaan-keadaan ini merupakan hal yang umum pula dalam kehidupan masyarakat hampir di semua kota yang ada di dunia.

Untuk kita bisa menilai perkembangan dan dampak dari pertumbuhan kota ini, baik terhadap penduduk Kota Manado sendiri maupun penduduk dan daerah sekitar kota ini berada, mari kita menilainya dari sudut pandang apakah Kota Manado adalah kota yang layak huni (Livable City)?

Ini Adalah Dua Teori yang berhubungan dengan Livable City.

Menurut Lennard (1997), prinsip dasar untuk Livable City adalah:

  • Tersedianya berbagai kebutuhan dasar masyarakat perkotaan (hunian yang layak, air bersih, listrik).
  • Tersedianya berbagai fasilitas umum dan fasilitas sosial (transportasi publik, taman kota, fasilitas ibadah/kesehatan/ibadah).
  • Tersedianya ruang dan tempat publik untuk bersosialisasi dan berinteraksi.
  • Keamanan, Bebas dari rasa takut.
  • Mendukung fungsi ekonomi, sosial dan budaya.
  • Sanitasi lingkungan dan keindahan lingkungan fisik.

Menurut Douglass (2002), dalam Livable City dapat dikatakan bertumpu pada 4 (empat) pilar, yaitu:

  • Meningkatkan sistem kesempatan hidup untuk kesejahteraan masyarakat.
  • Penyediaan lapangan pekerjaan.
  • Lingkungan yang aman dan bersih untuk kesehatan, kesejahteraandan untuk mempertahankan pertumbuhan ekonomi.
  • Good governance.

Adapun beberapa institusi telah mengadakan beberapa penilaian mengenai Livable City ini, diantaranya adalah :

  • Americas Most Livable Communities, yang menilai tingkat kenyamanan hidup kota-kota di Amerika Serikat.
  • Urban Construction Management Company, UCMC – IBRD (World Bank), yang menilai tingkat sustanabiliy kota-kota di dunia.
  • International Center For Sustainable Cities, Vancouver Working Group Discussion, yang menilai tingkat kenyamanan hidup kota-kota di Kanada.
  • Indonesia Most Liveable City Index2011 oleh Ikatan Ahli Perencanaan Indonesia (IAP), yang menilai tingkat kenyaman hidup kota-kota di Indonesia.

Dari beberapa poin diatas ternyata Kota Manado sudah Tiga Kali mendapatkan kajian dari Ikatan Ahli Perencanaan (IAP). Dari Tiga kajian, yang pertama pada tahun 2009 yang kedua pada tahun 2015 dan yang ketiga pada tahun 2017. Hasil dari ketiga kajian tersebut ternyata tingkat kenyamanan Kota Manado sangat turun drastis yang tadinya sempat menjadi peringkat 2 kota ternyaman di Indonesia. Hal ini diketahui bahwa bertambahnya kriteria tidak nyaman dari 8 kriteria di tahun 2009 menjadi 14 kriteria pada Tahun 2015. Kriteria yang berpengaruh pada penentuan kondisi kenyamanan kota adalah kualitas penataan kota, karena terjadi penurunan jumlah ruang terbuka hijau di perkotaan; penurunan kualitas lingkungan yang berdampak pada kondisi dan kebersihan lingkungan kota; meningkatnya intensitas kemacetan lalu lintas di kawasan perkotaan. https://ejournal.unsrat.ac.id/index.php/spasial/article/download/8256/7815

Kemudian pada tahun 2017 Kota Manado berada pada urutan ke-16 sebagai kota ternyaman di Indonesia. Kali ini peneliti melakukan penelitian Livable City di Kota Manado (11 kecamatan atau 68 kelurahan) berdasarkan tingkat partisipasi masyarakatnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis tingkat partisipasi masyarakat berdasarkan indikator Livable City oleh Ikatan Ahli Perencanaan (IAP). https://ejournal.unsrat.ac.id/index.php/spasial/article/view/25317

Dari hasil kajian diatas, penulis merasa cukup untuk kita masyarakat bisa menilai dan menginterpretasikan apakah semua “Orang Sulawesi Utara” masih mau disandingkan dengan sebutan “Orang Manado”? Penulis berpikir bahwa itu sangat relatif dan memerlukan kepastian penggunaan secara situasional yang tepat.

Foto: Jembatan Soekarno (Manado)

Mayarakat yang benar-benar peduli terhadap kota inilah yang nantinya akan menilai apakah Manado masih memiliki daya tarik magis-nya ataukah sebutan “Orang Manado” ini akan menjadi kenangan seiring perkembangan global, dikarenakan kota maupun daerah di sekitar Kota Manado saat ini seakan berlomba dalam menonjolkan keunggulan daerah masing-masing.

Selamat menilai dan Selamat Ulang Tahun Ke-397. Dirgahayu Kota Manado.

Torang Samua Basudara, Torang Samua Ciptaan Tuhan, Somahe Kai Kehage, San Siotte sampate pate, Pakatiti Tuhema, Pakanandu Mengena, Maguda Gudang Mo Mapia Panameng, Pakatuan Wo Pakalawiren, I Yayat U Santi, Wassalamu’alaikum Warahmatulahi Wabarakatuh, Om Santi, Santi, Santi Om, Shadu, Shadu, Shadu, Syalom, Damai di Hati, GOD Bless.

(AJeKa)

Sharing is caring

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here