“Mantra Sakti” Bangsa yang Besar juga Merdeka

0
26
Foto: Garuda Pancasila dan Bumi Indonesia

Paparan.ID – Percaya atau tidak hampir setiap proses terbentuknya suatu negara terselip cerita mistis yang turut berperan sehingga ritual seremonial kenegaraan boleh menjadi suatu yang sakral bahkan terkadang melebihi aturan suatu agama ataupun kepercayaan.

Mari kita tengok salah satu kerajaan terbesar di planet Bumi yaitu Kerajaan Inggris. Kejayaan dan pengaruh Kerajaan Inggris hingga sekarang masih dapat dilihat bahkan dinikmati melalui budaya, ilmu pengetahuan dan salah satunya yang paling kental adalah bahasa. Pengaruh dari negara para Hooligan sangat jelas terlihat dari bahasa yang digunakan oleh sebagian besar masyarakat global hingga kini.

Pada ulasan kali ini penulis tidak akan membahas Kerajaan Inggris secara spesifik ataupun  Legenda Raja Arhur. Jalan cerita sehingga terbentuknya negara Inggris adalah tujuan untuk sekedar dijadikan referensi dan memperkuat teori diatas.

Sama hal dengan terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Cerita awal dimulainya kependudukan masyarakat di tanah Jawa yang dikemudian zaman membentuk suatu negara yang modern yaitu Indonesia dengan dasar-dasar negara yang tidak lepas dari sontekan budaya pada masa itu. (Kakawin Sutasoma dan Empu Tantular)

Editor: Proklamasi Indonesia

Terbentuknya negara Indonesia mulai mengerucut pada abad ke-20 tepatnya di tanggal 28 Oktober 1928 dimana, para intelektual dan pejuang muda dari berbagai pulau di nusantara membacakan “Mantra Sakti” yang kemudian terkenal sebagai Sumpah Pemuda. Sumpah yang sangat kuat pengaruhnya sehingga bisa mempersatukan seluruh elemen nusantara dengan segala perbedaan baik itu suku, bahasa, budaya, warna kulit, bentuk rambut, bentuk mata, hingga dialek bahasa dan terlebih letak geografis daerah yang terdiri dari ribuan pulau.

Tanpa disadari kata-kata dalam Sumpah Pemuda yang terdiri dari tiga poin utama memiliki “sifat mistis” yang mampu menghipnosis para pendiri bangsa, sehingga bisa memiliki semangat yang kuat yang tidak dapat ditukar dengan harta benda bahkan nyawa sekalipun.

Mari melihat isi dari “Matra Sakti” tersebut:

Pertama:
Kami poetra dan poetri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia.
Kedoea:
Kami poetra dan poetri Indonesia mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia.
Ketiga:
Kami poetra dan poetri Indonesia mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.

Ketiga poin Sumpah Pemuda memiliki dampak magis sehingga mampu mempengaruhi psikologis yang tinggi dalam membentuk ide-ide logis dan kemudian menjadi dasar dari pemikiran-pemikiran para negarawan untuk menyusun administrasi negara yang kuat, berwibawa, diakui dan mampu mempertanggungjawabkan pada masa itu hingga masa yang akan datang. “Kita tidak bertujuan bernegara hanya satu windu saja, kita bertujuan bernegara seribu windu lamanya, bernegara buat selama-lamanya” (Bung Karno Sang Proklamator).

Poin pertama dalam Sumpah Pemuda dapat diartikan bahwa, masyarakat Indonesia yang diwakili oleh kaum muda pada saat itu mengakui memiliki satu tanah yang sama, meski kita terdiri dari ribuan pulau yang membentang dari Sabang sampai Merauke yang kemudian tanah tumpah darah Indonesia akan menjadi tempat hidup dan mati setiap jiwa anak bangsa yang merdeka.

Poin kedua bahwa masyarakat majemuk yang ada di seluruh nusantara mengakui berada pada suatu komunitas yang bersatu yang Ber-Bhineka Tunggal Ika dan kita menyebutnya sebagai Satu Bangsa Yang Besar Bangsa Indonesia. Diketahui ada lebih dari 300 kelompok etnik atau suku bangsa di Indonesia,[1] atau tepatnya 1.340 suku bangsa menurut sensus BPS tahun 2010.

Pada poin ketiga merupakan hal yang mendasar dalam kehidupan suatu makhluk hidup selain bernafas yaitu berkomunikasi. Poin pertama dan poin kedua dalam Sumpah Pemuda tidak akan dapat dilalui tanpa ada Poin ketiga. Ada beberapa makna terkadung dalam isi poin ketiga, baik itu dari sudut pandang harafiah maupun makna yang tersirat. Namun yang pasti komunikasi menjadi dasar utama sehingga semangat poin ketiga menjadi sesuatu yang menjadi mungkin untuk diwujudkan.

Negeri ini memiliki 718 bahasa daerah. Belum lagi dialek yang bisa saja berbeda meski dalam satu suku yang sama, karena setiap subetnik bisa memiliki dialek yang berbeda-beda. Dari perbedaan yang sangat beragam inilah maka diperlukan suatu “sumpah” untuk bisa “menghipnosis” dan mewujudkan Indonesia yang bersatu juga merdeka.

Sejarah panjang yang telah dialami oleh negeri ini sampai terbentuknya suatu Bangsa Indonesia yang merdeka hingga saat sekarang, bukan saja hanya dilihat dari hasil pembangunan yang ada, namun begitu banyak pengorbanan dari setiap jiwa-jiwa bebas merdeka, yang rela membelenggu diri dengan tidak menghitung hari-hari mereka, yang mungkin saja hilang dari tahun ke tahun bahkan sampai beberapa generasi.

Pengorbanan yang dilakukan bukan tidak dengan sengaja, namun ada kemurnian tujuan yang disematkan pada setiap tetesan keringat, bahkan darah yang ditumpahkan hanya agar sumpah para pendiri negeri ini dapat bertahan, lestari dan jaya menjaga persatuan yang telah di ikrar-kan pada 28 Oktober 1928 silam.

17 Agustus 2020 Republik Indonesia genap berusia 75 tahun, apakah refleksi kehidupan bernegara sudah sampai pada titik “kedewasaan seseorang”, atau masih tetap pada “karakter seorang anak” yang masih terus berada dalam pengawasan orang dewasa.

Dalam hal ini tidak membahas sisi pembangunan fisik yang telah dicapai selama kurun waktu 75 tahun merdeka, tetapi lebih kepada pertumbuhan karakter bangsa. Walaupun memang karakter suatu bangsa juga dipengaruhi oleh pembangunan secara fisik.

Di tengah marak-nya informasi global yang tiba-tiba menjadi bagian hidup keseharian masyarakat Indonesia, membuat cara berpikir setiap individu menjadi terbuka bahkan berdampak pada Kebebasan Berpikir Tanpa Batas. Belum sempat negeri ini mengatur dan memagari kedewasaan yang sementara dalam proses pembentukan karakter bangsa, tiba-tiba dilanda dengan informasi global yang memang secara regulasi tidak sempat memfilter penerapan pemberian kebebasan informasi secara bertahap sesuai dengan kemampuan dan kondisi masyarakat.

Memang bukan suatu hal yang mudah dan tidak berdampak resiko. Namun itulah fungsi negara untuk bisa mengatur warga-nya dengan tujuan agar meminimalisir setiap dampak buruk yang mungkin saja terjadi akibat dari pengaruh luar.

Bung Karno pernah berkata: “Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.” Mengapa sehingga Bung Karno bisa mengeluarkan kalimat yang terkenal ini? Saat sekarang semua hanya bisa mengira-gira bahkan hanya bisa menjadikan kalimat ini sebagai sensor tindak-tanduk dalam menjalankan kehidupan berbangsa dan bernegara, bahwa fokus sebenarnya bukan berada pada ancaman dari luar, tapi lebih kepada ancaman yang datang dari dalam bangsa sendiri. Suatu yang ada didepan mata, sesuatu yang dilakukan setiap hari namun disitulah letak kelemahannya.

Sebagaimana negara Indonesia terbentuk melalui kata-kata, begitu pula tantangan yang dihadapi akhir-akhir ini. Kata-kata menjadi suatu yang hilang kekuatan magis-nya. Sesama anak bangsa saling menghujat, sesama kawan seperjuangan saling ingkar janji, masyarakat tidak lagi mematuhi ucapan pemerintah dan masih banyak lagi permasalahan lainnya. Bukankah kebebasan informasi dan teknologi yang ada sekarang, harusnya mempermudah kita untuk bisa saling mengerti? Kenapa dengan adanya kemudahan dalam hal berkomunikasi malah membuat setiap kata itu menjadi “hambar” efek magis-nya.

Dalam banyak hal para pemangku kepentingan tidak lagi menjunjung tinggi bahasa persatuan, bahasa yang seharusnya menjadi pemersatu di dalam kemajemukan. Seberapa pun besar kekuatan militer suatu negara, akan tetap terlihat lemah dimata dunia ketika tidak bisa menunjukkan semangat persatuan dalam satu kesatuan jiwa nasionalisme sebagai sesama anak bangsa yang seia sekata. Karena kekuatan sebenarnya suatu bangsa terletak dari semangat jiwa persatuan penduduk yang mendiami suatu wilayah tertentu. Banyak yang bisa dijadikan contoh dari Peribahasa lama “Bersatu kita teguh bercerai kita runtuh”. Sejarah dunia banyak mencatat akan hal-hal demikian.

Apa gunanya untaian kata bijak nan indah namun tidak lagi memiliki pengaruh apapun. Apa gunanya sederet kalimat komitmen ketika tidak lagi memiliki makna untuk disadari dan dijadikan dasar oleh otak manusia untuk memerintah seluruh anggota tubuh lainnya, agar bersikap dan bertindak dengan sesuai. Semuanya diawali dengan kata-kata kemudian dilanjutkan dengan bersikap, membentuk suatu komitmen bersama, dilakukan secara terus menerus dalam waktu yang lama, sehingga terbentuklah karakter suatu bangsa yang selanjutnya mengkrital dan menjadi budaya.

Sebelum semuanya menjadi terlambat, mari bersama-sama seluruh elemen anak bangsa kembalikan efek magis dari setiap kata yang terucap dari mulut makhluk yang bernama manusia. Mungkin saat ini ada berjuta referensi mengenai kata-kata bijak dan kalimat-kalimat bermakna. Begitu mudahnya dengan menggunakan bantuan teknologi informasi internet kita bisa mendapatkan susunan kata-kata yang membentuk kalimat indah, bahkan dengan mudahnya bisa memagari prilaku warga negara melalui berbagai macam aturan. Namun hal tersebut tidak akan mampu membendung karakter seseorang yang telah kehilangan pengaruh dari efek magis sebuah kalimat.

Berbagai elemen pendukung sudah dimiliki bangsa Indonesia di abad yang penuh dengan teknologi, akibat dari keterbukaan informasi baik itu dari dalam negeri sendiri maupun secara global. Sumber daya manusia yang begitu banyak boleh dimiliki oleh negeri ini, tetapi itu saja tidak cukup untuk menghindakan Bangsa Indonesia dari permasalahan-permasalahan yang tidak kunjung selesai mulai dari masalah ekonomi, hak asasi manusia, hingga masalah hukum (dsb). Padalah infrastuktur fisik maupun sosial yang dimiliki dapat dikatakan sudah lebih dari cukup untuk membawa bangsa ini ke pintu gerbang kemakmuran.

Hal apalagi yang kurang dari negeri ini? Bukankah kemerdekaan sudah diraih selama 75 tahun? Harusnya progres kemanusiaan negeri yang pernah menjadi salah satu macan asia ini sudah masuk pada masa keemasan-nya. Apakah ada yang salah dalam proses selama 75 tahun kemerdekaan? Secara garis besar bangsa ini sudah berada pada rel-nya dalam hal menjalankan roda pemerintahan.

Dapat dikatakan ada hal yang menjadi resistensi mengapa negeri ini seperti berada pada lingkaran setan, dimana secara karakter hanya berkutat disitu-situ saja, secara umum tidak ada pertumbuhan karakter dan mental masyarakatnya, bahkan bisa dikatakan karakter masyarakat Indonesia malah “mengalami kemunduran” dibandingkan dengan generasi-generasi sebelumnya.

Ada satu karakter yang secara tidak sadar kurang dilirik bahkan sampai tidak memperdulikan, padahal karakter ini adalah tameng yang menjaga Ibu Pertiwi tetap berada pada rel berkehiduan kebangsaan yang berkepribadian ksatria. Karakter apakah itu? Karakter “rasa malu”. Karakter ini banyak menyentuh kehidupan dalam bermasyarakat maupun bernegara.

Di era modernisasi sekarang anak bangsa seperti kehilangan “rasa malu” dalam setiap tindak tanduk dalam menjalankan kehidupan sosial, baik itu dalam pergaulan sehari-hari hingga pada kehidupan sosial yang lebih luas. Hampir setiap apa yang dilakukan telah kehilangan yang namanya “rasa malu”. Padahal rasa malu itu seperti sebuah sensor yang menghindarkan, dari hal-hal negatif dalam kehidupan.

Editor: Merdeka Atau Mati, Merdeka Atau Malu. Karena Malu Sama Saja Sudah Mati.

Tidak akan ada yang namanya ingkar janji ketika memiliki rasa malu. Tidak akan ada yang membuang sampah sembarangan ketika masih memiliki rasa malu. Tidak akan mengenal yang namanya terlambat dalam berbagai janji ketika masih ada rasa malu. Kedisiplinan akan dijunjung tinggi ketika masih ada rasa malu. Selalu berusaha menghindari pertikaian dengan sesama anak bangsa ketika rasa malu masih selalu mengingatkan. Berusaha semaksimal mungkin untuk berhasil bahkan sukses dalam setiap tanggung jawab yang diembankan ketika rasa malu masih menjadi bagian dari diri. Menghindari yang namanya kegagalan bahkan berusaha untuk selalu berprestasi dalam pendidikan ketika rasa malu itu masih menjadi motivasi utama. Merasa tabu dengan yang namanya korupsi ketika rasa malu masih selalu membayangi setiap gerak langkah. Tidak akan mencalonkan diri menjadi seorang pemimpin ketika rasa malu selalu menyadarkan akan ketidakmampuan untuk mensejahterahkan masyarakat. Bersedia mundur dari jabatan ketika merasa malu karena gagal dalam menjalankan tugas negara. Tidak akan pernah melakukan kecurangan ketika rasa malu itu selalu menjadi pengikat dalam setiap usaha yang dilakukan. Karena rasa malu, tidak akan ada penindasan antara sesama anak bangsa yang memiliki hak yang sama di negeri ini. Selalu memiliki komitmen untuk menjaga negeri ini dengan api semangat perjuangan yang menyala-nyala, ketika sadar bahwa jangan sampai merasa malu karena mengecewakan para pendahulu yang telah berjuang dengan jiwa dan raga sehingga boleh menitipkan negeri yang kaya dan merdeka. Memiliki kesadaran bahwa batas kebebasan seseorang adalah kebebasan orang lain jika rasa malu itu adalah hukum paling utama dalam hidup. Tidak akan pernah mengkhianati negeri ini ketika punya rasa malu bahwa sesungguhnya generasi ini lahir dijaman dimana kemerdekaan itu adalah hadiah pertama yang dimiliki sejak pertama kalinya membuka mata di dunia ini.

Jadi sebenarnya efek magis yang telah diikrarkan oleh para Founding Fathers melalui Sumpah Pemuda dan Proklamasi Indonesia ada pada karakter manusia Indonesia itu sendiri. Ketika karakter manusia Indonesia telah kehilangan “sense” rasa malu, maka sebenarnya itu adalah akhir dari kekuatan magis yang telah menjaga kita selama kurang lebih 3/4 abad sebagai Suatu Bangsa Yang Besar Juga Merdeka.

(AJeKa)

Sharing is caring

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here