Persembahan Tubuh dan Jiwa

0
10

Kerelaan Cinta

Aku hanya butuh sebutir rasa asin saat ini. Sekiranya tak pernah ku kecap daun hijau lembut ditangan permaisuri berambut panjang yang dulunya pernah membuat aku tahu dunia ini begitu rumit membujur dari timur ke barat. Tolong tutup mata ini dihadapan prajurit tua yang berdiri memegang tombak panjang siap menghujam jantung kembar yang telah disatukan sejak pertama bertemu.Kepada siapa lagi aku harus menangis sedangkan tangisanku bertopeng dalam bayang- bayang jati diri seorang lelaki yang siap berkorban demi cinta yang akhir-akhir ini tak mau hilang.

Masa Lalu dan Harapan

Hari baru mendekap erat tanpa kompromi masa lalu meremukkan tulang di dada yang memang dalam beberapa minggu ini dingin namun terasa sejuk seiring helaan nafas dan detak jantung. Aku ingin ada yang mau membisikkan satu kata indah meskipun itu terlarang. Menguatkan tangan dan nantinya aku dapat berpegang pada satu penjuru yang tak akan hilang oleh sinar mentari. Ketakutan
Ketakutan menjadi hamba dimensi waktu disaat semua rasa menjadi mungkin untuk berbuat sesuka hatinya.Kalaupun kesadaran itu pada akhirnya berhasil menyusup masuk, apakah ia akan menyambutnya? Hanya kedalaman jurang terjal yang mampu menjelaskan betapa sakitnya memuja angin yang sewaktu-waktu berhembus dan lewat begitu saja hanya meninggalkan sentuhan lembut yang tak berbekas. Ketakutan menyadarkan bahwa semua itu hanya titik dari sebuah peramainan indah yang ternyata kehidupan. Hmmm…… kali ini ketakutan menjadi pahlawan.

Seindah Cinta

Seumur usia dan entah berapa lama lagi cinta akan terus berada disamping lengan pendamai bercincinkan kelembutan. Kepekaan cinta mengingatkan kita pada sebuah karya pengorbanan tanpa pamrih dibalik sayatan kekejaman. Sekuat tenaga aku menahan gelora penolakan terhadap sahabat sejati yang memang sedang sendiri.Ahhh…apalah arti cinta bila harus dipaksakan. Memang benar cinta telah menemani aku sejak mata melihat indahnya dunia ini. Aku tahu dia akan pergi kapanpun ia berkehendak.Jujur sungguh dasyat cinta itu menggelora dalam tubuh ini. Dan cinta itu seindah engkau kasihku.

Sejuta Puisi

Untukmu tak perlu sejuta puisi…karena aku adalah puisi itu sendiri. Seindah coretan tangan seindah itupun aku…seperih ungkapan dan setegar batu karang, aku bertahan dalam tangisan kesungguhan seorang anak kecil yang menginginkan boneka lusuh dan kumal. Mungkin terasa sulit tuk dimengerti. Kesedihan bahkan hanya bisa dijawab oleh air mata dan dibawa terbang oleh angin. Segala beban rasa itulah aku segala sukacita itulah aku.

Semangat Perjuangan

Semangat perjuangan akan terus dikumandangkan sampai tiba waktunya engakau benar-benar tunduk pada dasar kokoh yang adalah cita-cita lahirnya bangsa ini. Mereka boleh saja menghiasi negeri ini dengan tangan memegang tameng kesempurnaan… tapi itu hanyalah bentuk lain dari hausnya diri akan kekuasaan dan usaha melepas dahaga dari emosi sempit yang mengatasnamakan kebenaran.Jangan sekali-kali tameng itu diangkat karena genderang perang kaum nasionalis serta-merta akan berteriak melawan pedang yang terhunus dibalik tameng yang engkau sembunyikan. Selama mentari masih terbit di Merauke  dan terbenam di Sabang cita-citamu akan terus kujaga dan kulindungi. Aku akan mengembalikan poros  negara ini dalam pangkuan dasar berdirinya NKRI sekalipun aku hanya seorang diri.

Merenungi Negeri

Merenung diantara kumpulan besi berpakaian kemewahan dari sana mencoba mengintip keserakahan yang melintas sesuka hatinya. Pelangi di langit mencoba mendamaikan anak negeri yang sedang susah mencari nafkah dengan menampilkan orang-orang terbaik berkemampuan dan berpenampilan gagah perkasa. Tangan kekar berurat menarik gerbong yang dikira adalah keadilan. Coba tengok kekiri masih ada mereka yang mual karena sampai hari ini belum pernah mengecap keadilan.Coba tengok kekanan sekumpulan barisan pengecap keadilan malah sibuk membiakkan radikalisme seakan tak cukup pemberian ibu pertiwi.Menangis Bung Karno dalam kemurnian api juang yang ia tinggalkan untuk negeri tercinta.Memang bangsa ini butuh revolusi tapi revolusi apalagi yang akan kita perjuangkan jika roh pembenaran diri sendiri masih menyelimuti gunung kemakmuran.

Terkoneksi

Tak akan pernah aku mencinta bila aku tak yakin segala sesuatu yang ada di alam semesta ini saling berkaitan satu dengan lainnya(terkoneksi)…sejauh itukah kita merasa terpisahkan. Bukan karena engkau aku atau dia…tapi karena bumi berpijak kuat menahan beban perbuatan yang ternyata milik kita.Meski pengetahuan belum membuka rahasia itu, aku yakin semua mata mengerti akan keinginan kita…hasrat dan perbuatan-perbuatan itu yang berbisik menjelaskan semuanya.Sekedar melempar kata seakan-akan jauh terjamah.Bersembunyi dibalik kerumitan yang sebenarnya hanya didepan mata. Belum cukup pertemuan yang pernah ada, belum cukup perkenalan yang  telah tercipta.Dari sisi manapun, itu bukan hanya kebetulan…sadar atau tidak sadar semuanya telah diatur oleh sang waktu. Tangan kosong berkerut terbuka menegadah ke langit sambil memohon agar keyakinan akan tetap ada memelihara janji sampai semuanya menyatu dalam keadaan yang seharusnya.Aku akan tetap hidup sampai engkau kembali dalam pelukan hangat.

Tak akan menyerah

Berbisik membuat aku lelah, berteriak membuat aku tertikam oleh pedangku sendiri. Bukannya aku tak tahu disisi mana aku berdiri melainkan keindahan bunga di padang membuat aku ceroboh mencoba memetik kepunyaan tuan tanah yg sedang menatap alam ini dengan keseimbangan sempurna. Sembari tersenyum ayunan pedang keadilan terayun membelah kebuntuan yang menghalangi seseorang yang mungkin sedang jatuh cinta. Matahari hampir terbit kembali ketika aku mulai menyadari bahwa keadaan ini adalah permainan dedaunan, dengan musik yang tercipta oleh hembusan angin dari arah selatan.Kebingungan datang dari arah berlawanan menghempas tubuh ini mencoba mengembalikannya pada posisi semula dimana aku berdiri dan menjadi manusia biasa tanpa keinginan yang berarti. Menyerah hanya akan membuat kesalahan-kesalahan ini menjadi bertambah dan makin bertambah. Saat ini aku hanya butuh sedikit merebahkan diri dan berharap bangkit kembali dengan semangat kerelaan tanpa ada rasa kecewa ketika keadaan menjadi seperti sedia kala.Terlalu jauh aku berpikir ketika kesederhanaan malah menawarkan dirinya secara cuma-cuma. Tapi itu memang jalan yang mengarahkan aku pada kepuasan diri disaat berteman bersama alam. Aku berjanji tak akan mundur sejengkalpun sebelum dia bersandar dalam pelukan hangat dan mengaku bahwa bunga yang akan aku petik adalah memang milik siapa saja yang lewat di jalan ini.

Saat Ini

Ketika waktu bisa memisahkan kita dalam ruang yang tak dapat dimengerti. Mengapa waktu juga yang akhirnya mempertemukan kita dalam hasrat yang begitu kuat dan indah.Rasa ini tak tak tahu datangnya darimana namum mampu menghapus segala perbedaan yang ada. Apakah ini yang dinamakan cinta? Atau hanya sebuah energi kimia yang menyelubungi nadi dan menggelorakan perjalanan menuju keinginan daging.Aku tak terbiasa menyayangi. Aku tak terbiasa peduli. Aku tak terbiasa merespon. Aku hanya terbiasa hidup dalam keegoisan yang membeku. Tapi mengapa itu menjadi berbeda disaat aku terselubung dalam kehangatan tubuhnya. Sampai saat ini aku masih belum bisa mengerti. Sampai saat ini aku hanya bisa merasakan dan menjalani semuanya dengan tangan terbuka ditemani alunan merdu dan bisikan bahwa inilah aku dengan segala hasrat yang mampu bertahan entah sampai kapan.

Beban yang menghangatkan

Dia tidak datang dengan tangan hampa. Dia datang dengan bahu memikul beban yang nantinya dibagikan bagi siapa saja yang merasa memiliki.
Tawa adalah bagian kita saat ini, begitupun tangis.
Satu persatu semua yang ada ditanggalkan untuk nantinya menghangatkan kulit lembut dengan goresan luka. Disaat pagi hari luka ini tersamarkan oleh pakaian lengan panjang namun di malam hari pakaian ini harus ditanggalkan.
Mencoba menangis agar sedikit dapat menutupi perihnya luka di saat malam tiba. Namun itu hanya sesaat saja karena tangisan ada batasnya.
Berdiri dan menerima beban adalah cara memunculkan kembali serat demi serat kehidupan sampai terbentuknya lapisan halus menghangatkan.
Memang butuh di mengerti sebab kehidupan sekalipun bututh di mengerti. Penuh pengharapan dan pengorbanan agar ikatan ini tak bisa lepas dengan mudah. Sembari menikmati indahnya kehidupan lewat pelukan hangat.


Terlanjur Sayang

Seandainya lidah ini tak pernah mengecap setetes madu di lembah pertikaian. Mungkin saja bumi ini masih hijau terbentang dari berbagai arah mata angin.Tak ada yang memaksa tubuh ini berdiri tegas diatas lembutnya pijakan manis mengharuskan hidup memilih tengelam atau terpeleset jatuh diantara pelukan yang bukan milik kita.Bukankah kuasa itu berasal dari satu sumber saja. Mengalir membasahi setiap lidah yang berkehendak mengaku bahwa cinta itu lebih dari sekedar hidup itu sendiri.
Tujuan mengharuskan sang mempelai memakai kembali gaun indah biru dengan penutup kepala pertanda mahkota kejayaan menaungi kehormatan seorang wanita.
Mempercantik sekaligus mengikat ekspresi kepolosan dan mengurung jati diri bersama pribadi pemilik tubuh ini.
Memaksa mencari dari mana semua ini tiba-tiba bisa hadir di alam sadar hitam dan putih. Mengharuskan semua kehadiran di jelaskan lantang untuk memuaskan dahaga.
Berjalan di tengah keramaian berteriak mengaku bahw janji sehifupa pemilik tulang rusuk adalah dia yang membalutkan simbol kemurnian di jari manis. Pengikat untaian sekaligus pemasang belenggu janji sehidup semati.
Ingin rasanya membalas semua desingan yang memaksa sehingga diri ini memaksa bertekuk lutut memohon atas nama cinta sejati tanpa pengaruh apapun juga.
Merendahkan keegoisan, mengesampingkan semua hal, menutup mata dan hanya mendengar satu jeritan bahwa  inilah dia inilah aku yang terlanjur sayang.

Sharing is caring

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here